SEJARAH ANGGOTA-ANGGOTA

Disortir sesuai dengan tanggal resmi menjadi anggota Sinode

(Catatan : Sejak 1969, Tata Gereja dirubah dari sistem Kongregrasional menjadi sistem Presbiterial Sinodal)

Halaman 2 ( Gereja no. 08 - 14)


08. GEREJA KRISTUS SUKABUMI

   

     Pada bulan Agustus 1967, berdirilah sebuah Pos P.I. yang-mengadakan kegiatannya dirumah kel. Ali Suhandi, ji. Gunung Parang (R.E. Martadinata). Kebaktian rumah tangga yang pertama dihadiri oleh +/- 30 orang yang terdiri dari 10 orang pria, 13 orang wanita dan beberapa remaja, sedangkan anak-anak ada 144 orang.

     Kebaktian diadakan setiap hari Minggu jam 07.00 pagi dan dipimpin oleh Pdt. I. Jesua. Setelah berjalan beberapa lama, maka diajukanlah permohonan untuk menjadi anggota Sinode Gereja Kristus dan setelah diadakan peninjauan, maka pada tanggal 14 Januari 1968, Pos P. I. tersebut diterima secara resmi sebagai anggota Sinode Gereja Kristus dan bersamaan dengan itu pula diajukan permohonan ijin untuk mendirikan Gereja kepada Kantor urusan Agama di Bogor.

     Pada tanggal 4 Februari 1968, dibentuk majelis pertama yang terdiri dari  Pdt. I. Jesua , Sdr. Ali Suhandi, Sdri. Thea Kurniawati, Sdr. Sam Sundayana, Ny. Tirta Tanuwijaya dan Sdr. A. Jayalaksana.

    

     Rohaniwan yang pernah melayani di Gereja Kristus jemaat sukabumi adalah :

    

1968 - 1972 Pdt. Ibrahim Jesua

1972-1973 Ev. Yolanda

1974-1981 . Pdt. Yan Antoni

1979-1981 Ev. Rosiani Theja

1981-1982 Ev. Lucia Gunawan

1982 - mei 1984 Ev. Esther tanoni

Juli'84 - sekarang G.I. Andreas Poedjianto

   

Note : Sejak tahun 1972 - 1985, Pdt. Elisa Tjahjadi dari Gereja Kristus Bogor melayani sebagai Pendeta Konsulen di Gereja Kristus sukabumi. Tugas itu diserahkan kepada Pdt. Robert Wirian, juga dari Gereja Kristus Bogor, di akhir tahun 1987 karena kondisi kesehatan Pdt. Elisa Tjahjadi yang tidak memungkinkan.

    

09. GEREJA KRISTUS CIBINONG

   

     Pada tanggal 27 april 1963, saudara-saudara kita yaitu :  Lie Kim Tian, Pdt. Ang soen Kauw serta majelis jemaat Gereja Kristus Bogor mengajukan surat kepada Muspida setempat untuk mengadakan kebaktian rumah tangga  demi terpeliharanya benih injil yang sedang tumbuh di Cibinong.

     Usulan itu akhirnya disetujui, dan pada tanggal 2 Mei 1963 diadakan kebaktian pertama kali yang diadakan dirumah kel. Lie KimTian di Cibinong. Tempat itu dikenal masyarakat sebagai rumah hitam karena menggunakan ter (aspal) untuk catnya.

    

     Selanjutnya, pelayanan ditingkatkan oleh saudara kita dari Pekabaran Injil Bogor dan Bapak serta Ibu Lie Kim Tian. Setahun kemudian hasilnya mulai tampak dan pada tanggal 27 Juni 1965, diadakan pembaptisan kedua terhadap 5 orang. Kemajuan ini bertambah ketika setahun kemudian, tanggal 18 desember 1966,  dilaksanakan pembaptisan ketiga terhadap 6 orang saudara kita yang dilayani oleh Pdt. Elisa Tjahjadi.

     Dengan bertambahnya anggota jemaat, maka pada tanggal 12 Desember 1967, Cibinong resmi menjadi Pos Pekabaran Injil dan jemaat Gereja Kristus Bogor. Hal ini tidak berlangsung lama sebab, setahun kemudian pengurus ini mengajukan permohonan  pendewasaan Pos P.I.

     Pada tanggal 21 Nopember 1968, Pdt. Ang soen Kauw memimpin peresmian Pos P.I. Cibinong menjadi jemaat Gereja Kristus Cibinong yang beralamat di Jalan Raya Jakarta Bogor Km. 42,5 - Cibinong.

    

10. GEREJA KRISTUS BANDUNG

   

     Gereja Kristus Bandung lahir dari semangat pekabaran Injil yang dirintis oleh sebuah persekutuan Gereja Sangir Talaud (bukan GMIST) yang dimulai pada tahun 1961 di Bandung. Pada awalnya, gereja Sangir Talaud bernaung di bawah Sinode GKP dengan tempat ibadah di gedung GKP, jalan Kebun Jati 46. Sejak bulan Desember 1961 memakai gedung SDK Paulus III di jln. Lombok 7.
    
Dalam pertumbuhannya, pada tanggal 7 Agustus 1966  Gereja Sangir Talaud melepaskan diri dari GKP dan sejak saat itu mengganti nama menjadi "Gereja Kristen Maranatha" yang dilayani oleh Pdt. L. J. Janis.
    
Didorong oleh semangat kebersamaan dan jiwa persekutuan pelayanan, pada tanggal 17 Januari 1969  Majelis Kristen Maranatha mengadakan pertemuan formal dengan "Gereja Masehi Injili Bandung (GMIB)" yang menghasilkan sebuah kesepakatan untuk melebur kedua jemaat ini menjadi satu dalam wadah "Gereja Kristus Bandung". Realisasi peleburan itu dilaksanakan pada tanggal 9 Februari 1969 sekaligus peneguhan Majelis Gereja Kristus Bandung yang pertama.
    
Pada tanggal 12 Februari 1969, Gereja Kristus Bandung resmi menjadi anggota Sinode Gereja Kristus dan  sekaligus mentahbiskan Pdt. L. J. Janis sebagai pendeta Gereja Kristus Bandung yang pertama. Dengan latar belakang tersebut, maka tanggal 12 Februari 1969 ditetapkan sebagai awal berdirinya Gereja Kristus Bandung sebagai salah satu jemaat di Iingkungan Sinode Gereja Kristus.

    

11. GEREJA KRISTUS TANJUNG KARANG

12. GEREJA KRISTUS KOTABUMI(†)

    

     Bila kita melihat ke belakang, maka perkembangan Gereja Kristus, khususnya jemaat Tanjung Karang, cukup menarik untuk diikuti.

     Pada tanggal 21 desember 1962, dimulailah persekutuan rumah tangga di rumah sdr. Wong Ngat Fa (Alm.) yang bertempat tinggal di Kotabumi, Lampung Utara. Pada tahun 1963, atas kesepakatan bersama, seorang pendeta yang kebetulan sedang bebas tugas dari Gereja Methodist Indonesia, diminta untuk memimpin.

     Pada tanggal 21 Nopember 1965, para pengurus yang terdiri dari sdr. Wong Ngat Fa, Wong Khin Pin, Cen Kin Fen dan Wong Nui Lan menandatangani surat pernyataan yang berisi penyerahan jemaat dibawah pimpinan pendeta yang bernama Pdt. Timotiwu (Alm.).

     Tahun 1966, sdr. Yap Yun Chiu (Alm.), salah seorang jemaat di Kotabumi pindah ke Telukbetung. Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Timotiwu membentuk persekutuan rumah tangga yang bertempat di rumah sdr. Yap Yun Chiu tersebut di Kebon Pisang - Pasar Kangkung, Telukbetung. Karena perkembangan pelayanan tesebut, Pdt. Timotiwu lalu dibantu oleh Pdt. Timothy Yosua.

     Tahun 1968, jemaat yang sudah ada tersebut sepakat untuk membentuk suatu gereja dengan nama gereja Kristen Injili Lampung (GKIL), dengan pejabat majelis saat itu : Sdr. Yap Yun Chiu, Lim Fay Hin (Alm.), Lie Khim Pin dan Chen Kin Fen. Pada tanggal 7 des 1968 dengan prakarsa Pdt. Timotiwu, jemaat dapat memakai tempat ibadah Gereja Bethel Injil Sepenuh (sekarang GBI) di jalan Jatinegara, bagi jemaat yang tinggal di Telukbetung. Jemaat yang tinggal di Tanjung Karang, melaksanakan ibadah di gedung Gereja Protestan GPIB "Marturia".

     Karena jemaat belum mempunyai peraturan tetap dan mengalami kesulitan di berbagai bidang, maka timbul  gagasan untuk menggabungkan diri ke salah satu sinode. Saat itu yang diusulkan adalah a.l. : Persekutuan Gereja Injili di P. Bangka, Gereja Santapan Rohani di Jakarta dan Gereja Kristen Muria. Sementara itu dalam suatu pembicaraan antara Pdt. Timotiwu dan Pdt. Silas Obaja, muncul pula usul untuk masuk ke Sinode Gereja Kristus - Hal ini diteruskan ke Sinode Gereja Kristus Jakarta, yang disambut positif dengan mengundang Pdt. Timotiwu untuk hadir sebagai peninjau dalam Konferensi Sinode Gereja Kristus di Jakarta tahun 1968.

     Pada tahun berikutnya, pada tanggal 14 - 15 Agustus 1969, dalam Konferensi Sinode Gereja Kristus di Telukbetung, Gereja Kristen Injili Lampung secara resmi diterima sebagai anggota Sinode Gereja Kristus.

     Pada tahun 1973, jemaat Kotabumi membubarkan diri setelah ditinggal oleh Pdt. Timothy Yosua yang melayani disana.

    

13. GEREJA KRISTUS TARUNA

    

     Sejarah gereja ini dimulai pada pertengahan tahun 1960, ketika mertua Sdr. Sauw meninggal dunia. Pada saat Upacara Penguburan, hadir tiga bersaudara Pdt. Khoe Lan Seng, Sdr. Nio Tjoei Eng dan Sdr. The Soen Liong. Ke tiga Saudara ini digerakkan hatinya oleh Tuhan untuk membuat Pos P.I. dirumah kel. Souw, dimulai dari anak Sekolah Minggu yang terus berkembang.

     Pada tahun 1962, ada beberapa orang dewasa mengikuti katekesasi yang dipimpin oleh Sdr. The Soen Liong, dan pada bulan Juli 1962, telah dibaptis sebanyak 17 orang. Hamba Tuhan yang mulai melayani disini sejak awal 1961 hingga Desember 1963 adalah Sdr. The Soen Liong, Sdr. Yusak Wahidin, Sdr. Liem Oen Tjoe dan Sdr. Auw TjungTjing.
    
Pada awal bulan Januari 1964 s/d akhir 1965, sdr. S.Ch.E. Sudopo telah diutus oleh Majelis gereja Kristus Ketapang sebagai Guru Injil, meneruskan pekerjaan Pos P.I. Taruna ( S.B.K ). Pendeta H. F. Tan dari GK. Ketapang membentuk panitia yang sah pada tanggal 3 september 1967 s/d 1969.
    
Kira - kira bulan September 1966, rumah yang dipakai Pos P.I. Taruna dibeli oleh Gereja Kristus Ketapang. Pengurusnya adalah Sdr. Kian Wie, Sdr. Phoei Koei Liang dan Sdr. Jusak Wahidin.  Pembangunan gedung gereja dimulai bulan september 1968, didukung oleh Gereja Kristus Ketapang dan dibantu oleh para pendeta, majelis serta dermawan dari GK. Ketapang. Sdr. Freddy Natanael dan Sdr. Jusak wahidin ditunjuk sebagai Panitia Pembangunan, sedangkan sdr. Souw Ek Hoat ditunjuk sebagai Pelaksana.
    
Pembangunan Gereja selesai pada tanggal 27 Desember 1968 dan diresmikan oleh Pdt. H. F. Tan yang dilanjutkan dengan perayaan Natal tahun 1968 - jumlah anggota saat itu 67 orang. Pada tanggal 23 Juli 1970, majelis jemaat GK. Ketapang mengganti panitia lama karena masa jabatannya sudah habis. Panitia baru ditugaskan untuk mendewasakan Pos P.I. menjadi Gereja penuh. Jumlah jemaat pada saat itu sudah mencapai 79 orang.

     Atas keinginan anggota jemaat serta persetujuan dari Pendeta, Majelis Gereja Kristus Ketapang dan Sinode, akhirnya Pos PI Taruna diresmikan menjadi Gereja penuh dan diberi nama Gereja Kristus Jemaat Taruna pada tanggal 27 Januari 1972.

    

14. GEREJA KRISTUS KEBAYORAN BARU

    

     Sejarah Gereja Kristus Kebayoran Baru dimulai dengan pembentukan sekolah Minggu untuk anak-anak, gagasan seorang anggota Komisi Pelawatan Sekolah Minggu Gereja Kristus di tahun lima-puluhan, yaitu ny. Kong Tek Seng, yang menyediakan rumahnya di jalan Bulungan untuk dijadikan tempat.

     Itulah momentum pertama pembentukan Sekolah Minggu Permata Kecil (6 Juni tahun 1963). Namun karena ada masalah intern dalam keluarga Kong, maka pada Minggu berikutnya, mereka menyerahkan buku-buku nyanyian dan kursi-kursi kepada lbu Vilma Gunadi yang bertempat di ruko jln. Melawai VI / 17-19. Di ruang atas ruko inilah lahir gereja rumah tangga pada tanggal 16 Juni 1963.

     Kebaktian ini dihadiri oleh sdr. Oey Peng an, Kong Tek Seng dan Tn.&Ny. Alfred Gunadi, yang kemudian menjadi Pos P.I. Kebayoran Baru dan diakui secara resmi sebagai Pos P.I. Gereja Kristus Ketapang.
- 31 Desember 1963, PGK didirikan oleh sdr. Samuel H.T. bersamaan dengan terbitnya Majalah Suluh Kristus.

- 25 Agustus 1966, Paduan suara Nafiri berdiri dibawah pimpinan Sdr. Pouw Liam Sien.

- 1966-1968 / 1968-1970, Ketua Pos P.I. Kebayoran Baru dipimpin oleh Ny. Vilma Gunadi.

- 1970-1972 / 1972-1974, Ketua Pos P.I. dipimpin sdr. Andi Prakarsa S.H. , Sekretariat oleh Ir. Samuel H.

   Tirtamiharja. (pernah pula dibantu oleh Pdt. Kumala Setiabrata S.Th.)

- April 1974, untuk kali pertama diadakan pengumpulan uang untuk pembangunan Gereja.

- 22 oktober 1976, diajukan perubahan status Pos P.I. menjadi Gereja Penuh ke GK. Ketapang.

- 26 November 1976, pertemuan panitia pos dengan majelis GKK yang diketuai oleh Drs. Soen Liang Tek.

- 28 Desember 1976, Gereja Kristus Ketapang menyetujui pendewasaan Pos P.I. Gereja Kristus Kebayoran Baru

  dan memberitahukannya pada sinode.
- 28 Maret 1977, panitia pendewasaan Pos P.I. Kebayoran Baru diundang untuk menemui BPH Sinode yang

  terdiri dari Pdt. Elisa Tjahjadi, Pdt. Jose Abdi, Drs. Widarbo Indrawan dan Sdr. Fu Sin Tjang.
- 11 April 1977, BPH Sinode Gereja Kristus menyetujui pendewasaan Pos P.I. menjadi gereja penuh dengan

  syarat harus terdaftar 25 anggota dan majelis dari Gereja Kristus.
   
Akhirnya, Pada tanggal 16 Juni 1977, dilaksanakan Pelantikan Pendewasaan Pos P.I. ini menjadi Gereja Kristus Kebayoran Baru (Urutan ke 14 pada saat itu), oleh Pdt. Elisa Tjahjadi dari Sinode dan Drs. Soen Liang Tek dari Gereja Kristus Ketapang.

Kembali ke Halaman Muka          Halaman-1          Halaman-3


©

Sinode Gereja Kristus

©

 Best viewed @ 800 X 600