|
SEJARAH ANGGOTA-ANGGOTA

Disortir sesuai dengan tanggal
resmi menjadi anggota Sinode
(Catatan : Sejak 1969, Tata
Gereja dirubah dari sistem Kongregrasional menjadi sistem
Presbiterial Sinodal)
Halaman 3 ( Gereja no. 15 - 21)
|
15. GEREJA KRISTUS
TELUK NAGA
Berawal
di tahun 1967 ketika Ny. Nio Tjoei Eng Alm., ibunda Tn. No
Siong Liang Alm., seorang anggota jemaat Gereja Kristus Ketapang
yang merindukan kerabat dan keluarganya di desa Pangkalan - Kampung
Melayu juga mengenal dan mendapat kasih karunia keselamatan surgawi
(Kis. Rasul 16:31). Maka diajaklah seorang hamba Tuhan yang
bersahaja, yaitu Bpk. Frans Zohar untuk beranjak dari kota besar
Jakarta menuju ke sebuah desa kecil untuk mencari dan memenangkan
jiwa-jiwa di sana.
Tiba
di desa, di rumah Keluarga besar Ny. Lim San Nio Alm. (ibunda Ny.
Nio Tjoei Eng), Tn. Yap Djok Kian Alm. (kakak) serta Tn. Yap Kim
Soen (keponakan) yang sampai sekarang sebagai saudara dekat kami,
dimulailah kumpulan-kumpulan ibadah keluarga, mulai dari 1 kali
sebulan hingga kemudian pada setiap hari Sabat Tuhan. Anak
cucu keluarga ini mulai berkumpul, kemudian para tetangga dekat
sampai terbentuklah kebaktian kanak-kanak waktu itu (Sekolah Minggu
saat ini).
Dari
sinilah mulai terpatri sebuah kesetiaan dari seorang hamba Tuhan,
Pdt. Em. Frans Zohar untuk melayani dengan hati dan ketulusan hingga
pada hari ini saudara kami membaca catatan ini (1968-1978).
Pelayanan selanjutnya diteruskan oleh Guru injil
(Pntk) Max Killis pada tahun 1978 hingga 1986, dan sejak tahun 1986
pelayanan diteruskan oleh Pdt. Jusak H. Mulyantan sampai tahun 1995.
Anggota
jemaat berlatar belakang dari etnis Tionghoa (99%) dan yang lainnya
merupakan pendatang dari Sumatera, Sulawesi, Jawa dan Nusa Tenggara
Timur. Masyarakat di sekitarnya adalah etnis Betawi (pribumi) dan
kebanyakan beragama Islam serta etnis Tionghoa (keturunan) yang
kebanyakan beragama Budha. Ada beberapa orang dari etnis Betawi yang
sudah percaya karena pernikahan. Jemaat ini didewasakan bertepatan
dengan peresmian gedung gereja yang baru pada tanggai 1 April 1990.
Jemaat
ini dinyatakan resmi menjadi anggota ke - 15 dalam jajaran Sinode
Gerja Kristus pada saat berlangsungnya Konferensi Sinode Gereja
Kristus tanggal 22 - 24 Agustus 1991 di Wisma Kinasih,
Caringin - Bogor. |
|
16.
GEREJA KRISTUS TAMAN KOTA
Pada tanggal 31 Maret 1991, sebuah
Pos P.I. asuhan GK. Ketapang lainnya, yaitu P.I.
Taman Kota, didewasakan menjadi Jemaat Gereja
Kristus Taman Kota. |
|
17.
GEREJA KRISTUS KEBAYORAN LAMA
Gereja Kristus Kebayoran
Lama dimulai dengan pekabaran Injil yang mayoritas pendengarnya
adalah saudara-saudara Tionghoa yang berdomisili di Kebayoran Lama.
Pada umumnya, mereka adalah pemeluk agama Kong Hu Tju. Sekitar 7
orang dari mereka secara rutin datang dan mendengarkan pemberitaan
Firman Tuhan setiap hari Minggu di salah satu rumah yang terletak di
Jalan Kebayoran baru No. 93, Jakarta Selatan.
Peristiwa
ini sudah dimulai sebelum perang dunia kedua, yaitu sekitar tahun
1939. Pada tahun 1941, Pos P.I. Kebayoran Lama diasuh oleh Gereja
Kristen Tanah Abang Jakarta dan saat pecah perang dunia kedua,
Perkabaran Injil di Kebayoran lama sempat terhenti pada saat itu,
karena banyak penduduk yang mengungsi dan baru kembali setelah
perang selesai, dimana kemudian Pekabaran Injil baru dilakukan lagi,
disampaikan oleh Ds. H. F. Tan dan Ds. Tjoe Tek Koen.
Tahun
1954, pengasuhan Pos P.I. Kebayoran Lama dipegang oleh Gereja
Kristus Petamburan dan pada tanggal 15 Maret 1955, Pos P.I.
Kebayoran Lama resmi dibawah asuhan Gereja Kristus Petamburan
Jakarta Pusat.
Setelah
mengalami berbagai macam perjalanan, maka pada bulan September 1963,
diadakan rapat antara Majelis Gereja Kristus Petamburan dengan
pengurus Pos P.I. Kebayoran Lama untuk membahas pendewasaan Pos
menjadi Jemaat Dewasa.
Pada
tanggal 15 Desember 1963, Pos P.I. Kebayoran Lama secara
resmi menjadi Jemaat yang dewasa, dan pada tanggal 6 Februari 1993,
Gedung Gereja Kebayoran Lama ditahbiskan, sekaligus merayakan ulang
tahun Gereja Kristus Kebayoran Lama yang ketiga puluh. |
|

18. GEREJA KRISTUS
SARUA PERMAI
Bermula
dari kerinduan untuk bersekutu dan beribadah kepada Tutian, beberapa
orang percaya di komplek Sarua Permai mengadakan Kebaktian Natal
bersama pada bulan Desember 1985. Seusai kebaktian mereka berbicara
dari hati ke hati dan bertukar pikiran tentang bagaimana mereka
dapat beribadah secara tetap dan ada Gereja yang menaungi mereka.
Pertemuan
berikutnya diadakan di rumah Keluarga Rio Amoz untuk membicarakan
maksud tersebut. Yang hadir pada waktu itu antara lain : Kel. Oedin
Sudirman Salim, Kel. Buce, Kel. Rio Amoz, Ibu Erliana Sembiring, Ibu
Ginting dan Ibu Elsye Hendro. Pertemuan tersebut menghasilkan
kesepakatan yakni pengadaan kebaktian di bawah naungan Gereja
Kristus Petamburan. Untuk itu, Ibu Sembiring, yang merupakan anggota
Majelis Gereja Kristus Petamburan, menyediakan rumahnya untuk
dipakai sebagai tempat kebaktian.
Disertai
kesehatian dan kesungguhan serta pergumulan dalam doa, diadakanlah
kebaktian pertama kali di rumah Ibu Pnt. Erliana Sembiring di JI.
Musi-A50 No. 7 pada hari Minggu tanggal 26 Januari pukul 17.00 WIB.
Kebaktian dipimpin oleh Bapak Pdt. Alex Maleakhi. Jemaat yang
pertama kali hadir dalam kebaktian tersebut antara lain Kel. Oedin
Sudirman Salim, Kel. Rio Amoz, Kel. Buce Boba, Kel. John Lawalata,
Kel. Usman, Bpk. Siahaan, Ibu Erliana Sembiring, Ibu Ginting, Ibu
Elsye Hendro dan Sdri Balle.
Setelah
berjalan beberapa bulan, pada bulan Maret 1986, jemaat memutuskan
mengontrak rumah milik bapak Sudarmo, anggota Gereja Katolik di Jl.
Sarua Permai Raya Blok A45/11 untuk kebaktian. Mulai tanggal 2
Maret, kebaktian Sekolah Minggu secara tetap diadakan pada jam
08.00, sedangkan kebaktian dewasa tetap pada jam 09.00. Pada bulan
itu juga terbentuk kepengurusan dengan jumlah 5 orang anggota, yaitu
: Bpk. Oedin Sudirman Salim (ketua), Bpk. Thompson Hutagaol, Bpk.
Buce Boba, Bpk. Rio Amoz, Bpk. John Lawalata dan Ibu Elsye Hendro.
Secara
bergantian, kebaktian di Sarua dilayani oleh Pdt. Alex Maleakhi dan
Bpk. Ruben Tagi, Pdt. Liting Napitupulu (Alm.), Bpk. Donny Manuhutu
dan Sdr. Hotbin Siregar (membantu di pemuda) melalui berbagai
pergumulan menjelang pendewasaan Pos Pekabaran Injil Sarua menjadi
Jemaat Gereja Kristus Sarua Permai (GKSP).
Oleh
kemurahan Tuhan, pada tanggal 24 April 1994, Pos P.I. Sarua
mendapat pengakuan dari Sinode Gereja Kristus sebagai jemaat yang
berdiri sendiri / dewasa. |
|
19. GEREJA KRISTUS
PAMULANG
Gereja
Kristus Jemaat Pamulang dimulai dari pelayanan untuk
Sekolah Minggu pada bulan September 1985,
bertempat di rumah keluarga Parmenas Iskandar, di
Pamulang Permai I Blok A-29/6, setiap hari Minggu
jam 16.00 WIB. Pada awalnya, Sekolah Minggu ini
dipimpin oleh tenaga pengajar Ibu Malia Iskandar
(Alm.), dibantu oleh guru-guru Sekolah Minggu Gereja
Kristus Petamburan.
Untuk
peningkatan Iebih lanjut, diadakan persekutuan
keluarga setiap hari Rabu jam 19.00, yang dimulai
pada tanggal 6 Nopember 1985 dan dipimpin oleh Bpk.
Pdt. Alex Maleakhi. Persekutuan keluarga ini
berjalan sampai tanggal 3 September 1986, kemudia
diadakan persekutuan setiap hari Minggu jam 09.00
WIB.
Pada
tanggal 7 September 1986, diadakan Kebaktian Minggu
yang pertama, dipimpin oleh Bpk. Pdt. Litting
Napitupulu S. Th. (Alm.) dan dihadiri oleh 16 orang.
Kebaktian selanjutnya dihadiri oleh 15-25 orang.
Untuk menampung lebih banyak jemaat, mulai tanggal 2
Nopember 1986, Kebaktian Minggu dialihkan ke rumah
Keluarga Bpk. Paulus Santoso yang akhirnya
dibeli untuk tempat beribadah (Pamulang Permai I
Blok A-24 / 23).
Untuk
peningkatan layanan, sejak tanggal 15 Pebruari 1987
Majelis Jemaat Gereja Kristus Petamburan
meningkatkan status Persekutuan Pamulang menjadi Pos
P.I. Gereja Kristus Petamburan. Pada tanggal 1 Maret
1993 diadakan pergantian Pendeta dari Pdt. Lifting
Napitupulu S. Th kepada Pnt. Kh. Indria LSW. S. Th.
Selanjutnya Pos P.I. Gereja Kristus ini melaksanakan
ibadah setiap hari Minggu jam 09.00 WIB dan jumlah
jemaat mulai bertambah hingga dapat memenuhi
ketentuan Tata Sinode Gereja Kristus untuk
didewasakan dan sah menjadi jemaat yang
mandiri.
Pada
tanggal 14 Nopember 1998, Sinode Gereja
Kristus mendewasakan Jemaat Pos P.I. Petamburan ini
menjadi Jemaat mandiri dan hingga kini disebut
sebagai Gereja Kristus Jemaat Pamulang (GKJP). |
|
20. GEREJA KRISTUS
GUNUNG PUTRI
Pada
tahun 1988, PT. Ferry Sonnevile and Co. bekerja sama
dengan BTN membangun perumahan di desa Karangan,
Kecamatan Gunung Putri. Komplek perumahan tersebut
diberi nama "GUNUNG PUTRI PERMAI" (KPGPP).
Setelah
pembangunan tersebut, terjadi perpindahan penduduk
dari berbagai daerah ke tempat pemukiman baru
itu. Ada keluarga-keluarga Kristen yang juga
menempati rumah-rumah di Komplek Perumahan Gunung
Putri Permai. Oleh sebab itu, diadakanlah
Persekutuan Oikumene yang terdiri dari gabungan
beberapa gereja, antara lain umat dari Gereja
Katolik, Protestan (GPIB, G. Kristus), Pantekosta
dan Adven.
Kegiatan
Persekutuan Oikumene diadakan bukan pada hari
Minggu, sebab pada hari itu jemaat beribadah di
gereja masing-masing. Bagi anggota jemaat Gereja
Kristus, mereka beribadah di Gereja Kristus Jemaat
Cibinong yang berjarak 5 Km. dari Gunung Putri.
Jemaat sering kali mengalami kesulitan mendapatkan
kendaraan umum ke Cibinong pada hari Minggu pagi
karena, pada waktu itu belum banyak kendaraan umum
seperti sekarang. Oleh sebab itu, atas usulan dari
jemaat di Gunung Putri, Majelis Jemaat Gereja
Kristus Jemaat Cibinong memutuskan membeli sebuah
rumah tipe 21 yang berlokasi di JI. Nanas VI Blok E8
No. 13, dimana terdapat kelebihan tanah seluas 5 x
10 m. Bangunan rumah tersebut menjadi rumah pastori
yang ditempati oleh G.I. Edward Ladasi, sedangkan
diatas sisa kelebihan tanah tersebut dibangun
bangunan sederhana untuk tempat beribadah.
Kebaktian
1 sekaligus peresmian Pos P.I. dilakukan pada
tanggal 12 Pebruari 1989 oleh Pdt. Rudi Wirian dan
dihadiri oleh Bpk. H. Mulyadi Naseri, wakil dari
desa Karanggan. Jemaat dan simpatisan yang hadir
pada waktu ibadah pembukaan itu sebanyak 10 orang,
antara lain : Kel. Sihadi, Kel. Suryanto, Kel.
Sisworo, Kel. Suharyanto, Ibu Onny Pratiwi dan
beberapa orang pemuda pemudi. Pada minggu-minggu
selanjutnya, jumlah jemaat makin meningkat, sehingga
Majelis Jemaat GKJC memutuskan untuk membeli 4 buah
rumah secara kredit, berlokasi di JI. Nanas VI Blok
E7 No. 1 - 4, tepat di depan rumah pastori / tempat
ibadah sementara. Rumah-rumah tersebut direnovasi
menjadi tempat ibadah dan konsistori serta satu
kamar untuk koster gereja.
Pos
P.I. ini terus bertumbuh dan berkembang. Setelah
memenuhi ketentuan Tata Gereja Kristus, pada tanggal
30 Juni 2003, Pos P.I. Gereja Kristus Jemaat
Cibinong ini didewasakan menjadi Gereja Kristus
Jemaat Gunung Putri dan disahkan dalam Konferensi
Sinode Gereja Kristus pada tanggal 4 Agustus 2003 di
Gunung Geulis, Bogor. |
|

21. GEREJA KRISTUS
CIAMPEA-LEUWILIANG
|
|