Spirit of Friendship Evangelism (Semangat Penginjilan Persahabatan)

Perikop Efesus 6:10-20 berbicara mengenai perlengkapan senjata rohani.  Secara khusus dalam ayat 13-18 dituliskan agar kita mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah.  Berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, berkasutkan kerelaan untuk memberikatan Injil damai sejahtera, mempergunakan perisai iman, menerima ketopong keselamatan, dan pedang Roh yaitu Firman Allah dan kemudian diakhiri dengan permohonan DOA.  Berdoalah setiap waktu di dalam Roh untuk keberanian memberitakan Injil.

Ternyata penginjilan tidak bisa terlepas satu sama lain dengan doa, karena tidak ada kebangunan rohani sejati tanpa didahului dengan doa.  Menurut Billy Graham, doa membuka jalan dan membuka hati.  Sementara penginjilan adalah menceritakan karya Allah bukan menjadi ajang perdebatan.  

Mari kita belajar dari Tuhan Yesus dalam pecakapan dengan perempuan Samaria (Yoh. 4:1-42). Di dalamnya terdapat beberapa langkah yang dapat kita pelajari:

Tuhan Yesus memulai percakapan dengan hal-hal yang biasa terjadi sehari-hari: “BERILAH AKU MINUM”.  Ia tidak memulai percakapan dengan hal-hal rohani terlebih dulu.  Namun, pertama-tama Ia membangun komunikasi dengan menggunakan “jembatan persahabatan”.  Bila diaplikasikan di jaman sekarang, mungkin kita dapat memulai obrolan dengan membicarakan hobby, minat dan kesukaan yang sama dan lain sebagainya.

Sangatlah mungkin saat bercakap-cakap terjadi pembicaraan yang menjurus kepada perbedaan, namun Tuhan Yesus mengarahkan pembicaraan tersebut kepada persamaan.  Sebagai contoh, di dalam nas kita, perempuan Samaria tersebut membedakan kedudukan, ras, suku dan bahasa Samaria dengan Yahudi.  Tetapi Tuhan Yesus menanggalkan baju “keYahudianya” dan menerobos semua penghalang yang ada.  leh karena itu Paulus mengatakan dalam I Kor. 9 : 19 - 23,  “aku menjadi seperti…….”  

” 19Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. 20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. 21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”(I Kor. 9 : 19 - 23)

Tuhan Yesus sama sekali tidak menggunakan hal-hal yang sulit dimengerti.  Ia menganalogikan Injil dengan hal-hal sederhana di sekitarnya.  Tuhan Yesus menggunakan air.  Air sumur Yakub dianalogikan menjadi air kehidupan.  Sehingga timbul minat di hati perempuan tersebut dan ia berkata“ Tuhan, berikanlah aku air itu …. ” (Yoh. 4:15).  Minat akan timbul ketika tidak ada lagi penghalang-penghalang dan prasangka-prasangka buruk kepada Tuhan Yesus. 

Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang berbeda.  Ia seorang Yahudi yang menghargai seorang Samaria.  Ia seorang pria berbicara dahulu kepada seorang wanita.  Ia seorang Rabbi memulai pembicaraan dahulu kepada rakyat jelata.

Tuhan Yesus juga tidak bersikap terlalu jauh dan tidak menghakimi (Yoh. 4:16-19).  Tuhan Yesus membongkar dosa dengan caraNya yang bijaksana.  Ia bukan menggunakan kalimat-kalimat pernyataan tetapi pertanyaan.  Tuhan Yesus tahu ia berhadapan dengan perempuan tuna susila, tetapi ia tidak menghakimi. Dalam membawa orang kepada Kristus, biarlah kita menolong mereka untuk menyadari bahwa mereka dikasihi oleh Allah, melalui kehadiran kita.  Karena kasihlah yang membuka mata rohani orang untuk melihat dosa di dalam terang kesucian Allah.  Inilah pekerjaan Roh Kudus.

Saat berbicara tetaplah pada “Pemberitaan Utama” (Yoh. 4:20-24).  Perempuan Samaria tersebut membawa pembicaraan ke dalam perdebatan tentang tempat, kebudayaan dan agama.  Namun perlu kita ingat, kita harus membawa pembicaraan untuk mengenal pribadi Yesus, bukan yang lain, apalagi perdebatan tentang agama.  Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepadaKu .....” (Yoh. 4:21).

Tuntunlah ke dalam keputusan dan kesadaran pribadi (Yoh 4:25-26).  Perempuan Samaria itu yang menyebut Mesias dan Kristus terlebih dahulu.  Jawab Yesus: “Akulah Dia, yang sedang berkata kata dengan engkau” (Yoh. 4:26).  Tahapan ini sangatlah penting, tuntunlah orang tersebut dalam keputusan dan kesadaran pribadi.  Agar ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Hasil dari pembicaraan Tuhan Yesus dan perempuan Samaria itu bukan saja membuat ia menjadi percaya, tetapi bahkan ia menceritakan dan memberitahukan tentang Yesus kepada orang banyak (Yoh. 4:28-29).  Sampai banyak orang di kota itu menjadi percaya (Yoh 4:39, 41).  Terpujilah Nama Tuhan!

Kita hanya alat, Tuhanlah yang berkuasa dalam pekerjaanNya. Selamat Menginjili dengan Kekuatan Kuasa Allah dalam Semangat Persahabatan!

 

Tuhan Yesus memberkati.

 

Pdt. Setiawan Sutedjo, M.Div

(Sumber : Berita Sinode Gereja Kristus - Edisi 2016)