SEJARAH SINGKAT

SINODE GEREJA KRISTUS

1. Sejarah

Gereja Kristus pada awalnya lahir dari serangkaian usaha pengabaran Injil yang dirintis oleh badan misi Methodist (Methodist Episcopal Church, USA) yang dimulai tahun 1905 di tanah Jawa. Misi Methodist dalam upayanya menjangkau penduduk pribumi di Jawa memakai batu loncatan dengan menjangkau orang Tionghoa terlebih dahulu sebagai sasaran-antara. Melalui usaha pengabaran Injil tersebut, lahirlah jemaat-jemaat Tionghoa di Batavia, dan beberapa daerah di Jawa Barat.

   Setelah Perang Dunia I terjadi krisis ekonomi (malaise) yang melanda Amerika Serikat dan seluruh dunia. Begitu parahnya krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat, sehingga badan misi Methodist memutuskan untuk menghentikan usaha pengabaran Injil di Jawa dan Kalimantan, serta memfokuskan kegiatan penginjilan mereka hanya di pulau Sumatra. Semua jemaat hasil penginjilan mereka diserahkan kepada zending NZV (Nederlands Zending Vereeniging). Namun demikian, ada beberapa jemaat yang tidak mau bergabung dengan NZV, antara lain Jemaat Methodist Mangga Besar, yang merupakan cikal bakal Gereja Kristus Jemaat Ketapang dan Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar.

   Sekitar tahun 1920 di Pulau Jawa telah berdiri beberapa gereja yang bersifat independen, antara lain jemaat-jemaat Methodist dan jemaat-jemaat hasil binaan NZV. Pada tanggal 23-27 November 1926 di Cipaku, Bogor, para tokoh masyarakat Kristen Tionghoa mengadakan Konperensi Kristen Tionghoa dan memutuskan untuk mendirikan Bond Kristen Tionghoa, yaitu Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH-TH). Semangat konperensi ini mendorong dibentuknya gereja-gereja THKTKH, antara lain THKTKH Mangga Besar (diprakarsai oleh Jemaat Methodist Mangga Besar pada tanggal 1 Januari 1928) dan THKTKH lainnya yang hari ini kita kenal sebagai Gereja Kristen Indonesia (GKI).

   Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1939 THKTKH Mangga Besar mengganti nama menjadi CHCTCH (Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui). Pada tahun 1940 CHCTCH Mangga Besar mulai membeli sebidang tanah dan membangun gedung gereja di Gang Ketapang No. 9, yang selanjutnya dikenal sebagai Gereja Ketapang (Gereja Kristus Ketapang). Pada tahun 1958 diputuskan untuk mengganti nama CHCTCH menjadi Gereja Kristus. Pada waktu itu sudah ada beberapa jemaat CHCTCH seperti : jemaat Ketapang (cikal bakal GK Ketapang), jemaat Kuo Yu Thang (cikal bakal GKJMB), jemaat Bogor (cikal bakal GK Bogor), jemaat Tanah Abang (cikal bakal GKI Wahid Hasyim dan GK Petamburan), jemaat Purwakarta (cikal bakal GK Purwakarta). Dalam perkembangan selanjutnya Gereja Kristus Ketapang turut berperan dalam pendirian Gereja Kristus Taruna, Gereja Kristus Kebayoran Baru, Gereja Kristus Teluk Naga, dan banyak pos-pos pengabaran Injil lainnya.



   Pembentukan Sinode Gereja Kristus terjadi pada konferensi yang berlangsung di Gereja Kristus Teluk Betung pada tanggal 14 Agustus 1969. Konferensi ini menghasilkan Tata Gereja Sinode Gereja Kristus yang pertama. Pada kurun waktu 1969-1995 Sinode Gereja Kristus memusatkan kegiatannya di salah satu kantor/ruangan di Gereja Kristus Ketapang. Sejak tahun 1996, Sinode telah mempunyai kantor sendiri bertempat di Jln. Patra Raya No.1, Duri Kepa, Jakarta Barat. Sinode Gereja Kristus tercatat dalam Akta Notaris sebagai Badan Hukum pada tahun 1939 dengan Stb. No.298/SK Depag RI no.122 tahun 1988.
   Dalam perjalanannya, Kantor Sinode Gereja Kristus berpindah alamay ke Jl. Aipda KS. Tubun 2, Jakarta 11410, sejak tanggal 29 Mei 2017 hingga sekarang.

   Saat ini Sinode Gereja Kristus mempunyai anggota 22 jemaat dewasa dengan jumlah anggota jemaat sebanyak ± 15.000 orang dewasa dan tenaga rohaniwan 71 orang. Keduapuluh dua jemaat Gereja Kristus tersebut adalah: 1) GK - Ketapang; 2) GK - Petamburan; 3) GK - Taman Kota; 4) GK - Jembatan Hitam; 5) GK - Taruna; 6) GK - Kebayoran Baru; 7) GK - Kebayoran Lama; 8) GK - Sarua Permai; 9) GK - Pamulang; 10) GK - Teluk Naga; 11) GK - Bogor; 12) GK - Purwakarta; 13) GK - Bandung; 14) GK - Sukabumi; 15) GK - Tanjung Karang; 16) GK - Teluk Betung; 17) GK - Cibinong; 18) GK - Gunung Putri; 19) GK - Bojong Indah; 20) GK - Ciampea; 21) GK - Kartini; 22) GK - Gading Serpong (catatan: pada tahun 2006, GK Mangga Besar yang dulunya adalah anggota jemaat dewasa Gereja Kristus, telah memisahkan diri dari Sinode Gereja Kristus, dan disetujui dalam Persidangan Majelis Sinode (PMS) ke-45, 17-19 Agustus 2006.

   Sinode Gereja Kristus juga memiliki 12 Pos PI dan 3 Bakal Pos. Kesepuluh Pos PI tersebut adalah: 1) Pos PI Cibubur, 2) Pos PI Kelapa Gading, 3) Pos PI Basoeta (Bandar Udara Soekarno-Hatta), 4) Pos PI Kembangan (penyatuan 3 pos sebelumnya yaitu Taman Alfa Indah, Taman Aries pada Desember 2019 dan Green Garden pada bulan Januari 2021 ), 5) Pos PI Cipanas, 6) Pos PI Villa Tangerang Indah, 7) Pos PI Duta Garden, 8) Pos PI Bontang, 9) Pos PI Indraloka, 10) Pos PI Blimbing, 11) Pos Semanan Indah, dan 12) Pos Cengklong.

   Ketiga Bakal Pos adalah : 1) Bakal Pos PI Asem; 2) Bakal Pos Kemiling; 3) Bakal Pos Citra Maja Raya

2. STRUKTUR ORGANISASI DAN AJARAN


   Sebagaimana tercantum dalam Tata Gereja Sinode Gereja Kristus, susunan organisasi Gereja Kristus didasarkan pada tata cara Presbiterial Sinodal, yang terdiri dari : jemaat-jemaat Gereja Kristus (lokal) dan sinode yang merupakan perwujudan kesatuan dari keseluruhan jemaat Gereja Kristus.

   Mengenai ajaran atau teologi Gereja Kristus, pada awal berdiri dan pembentukannya Gereja Kristus menganut ajaran Methodis. Namun, semenjak tenaga-tenaga Methodis meninggalkan Jawa, jemaat dilayani oleh tenaga-tenaga NZV yang bercorak teologi Calvinis. Di samping itu jemaat juga dilayani oleh pengkhotbah yang berasal dari kaum awam, yang tidak jelas warna/corak teologinya. Mereka adalah Lee Teng San, Lie Kim Tian, dan Khoe Lan Seng (kemudian diangkat menjadi pendeta GK Ketapang). Selain itu harus diperhitungkan adanya pengaruh dari ajaran Dr. John Sung yang pernah mengadakan serie-meeting di THKTKH Mangga Besar dalam tur pengabaran Injil di Indonesia pada tahun 1938. Dalam perkembangan selanjutnya jemaat tampaknya tidak mementingkan perbedaan teologi para rohaniwannya. Hal yang diutamakan adalah moral etika atau kesusilaannya sebagai rohaniwan. Itulah sebabnya para rohaniwan di gereja Kristus berasal dari bermacam-macam pendidikan teologi.

   Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sepeninggal misi Methodis, jemaat telah diperhadapkan dengan bermacam-macam warna teologi sehingga kita tidak dapat mengatakan apa sebenarnya atau bagaimana corak teologi Gereja Kristus itu. Apalagi jika kita memperhatikan bahwa para rohaniwan yang melayani di Gereja Kristus berasal dari bermacam-macam lembaga pendidikan teologi.

   Sinode Gereja Kristus telah menetapkan 13 sekolah teologi dan Sekolah Tinggi Teologi lainnya (yang memenuhi syarat seperti yang diatur dalam Tata Gereja - Gereja Kristus, hlm. 120) yang direkomendasikan bagi syarat penerimaan tenaga rohaniwan, yang secara umum bervariasi corak teologinya. Kiranya ini dapat diharmonisasikan menjadi sebuah mozaik yang indah, sehingga akan memperkaya Gereja Kristus dalam menemukan dan menentukan corak teologi dan jati dirinya.